Kalau mengingat almarhum bapakku ada rasa penyesalan di
hatiku yang teramat dalam. Disaat beliau sakit aku tidak sempat merawatnya. Padahal
bapakku sosok orang tua yang sangat penyayang, sederhana, dan demokratis dalam mendidik anak-anaknya yang
kebetulan semuanya perempuan. Sebagai seorang militer bapakku sangat disiplin
dalam mendidik semua anaknya. Sehingga kini aku pun masih memegang teguh ajaran
bapakku dalam mendidik anakku.
Disiplin dan sederhana
Selain kedisiplinan bapakku juga mengajarkan kesederhanaan. Aku
masih ingat waktu masih tinggal di asrama tentara di Yogyakarta, waktu itu
bapakku masih dinas diketentaraan dan masih mempunyai hak untuk tinggal di
salah satu rumah di asrama itu, tetapi bapaku justru sengaja memindahkan
keluarganya ke kampung dan tidak mau tinggal di asrama lagi. Alasan bapakku
waktu itu agar keluarganya semakin dewasa, bahwa semua kebutuhan itu didapat
dengan perjuangan tidak instan (maklum kalau di asrama semua serba ada, karena
difasilitasi oleh kesatuannya bapak).
Coba kalau tinggal di kampung untuk
mendapatkan sesuatu ya usaha dulu, karena sudah nggak ada fasilitas lagi Yang dulu
aku kalau sekolah diantar jemput pakai mobil tempat kesatuannya bapak, begitu
tinggal di kampung aku harus naik sepeda kesekolah atau berjalan kaki. Bapak juga
mengajarkan anaknya untuk tidak mengeluh.
Bapak yang hebat
Hebat! Angkat jempol aku buat bapakku. Setelah kami tinggal
di kampung, otomatis bapakku harus menempuh perjalanan sejauh 60 km menuju kota Magelang (saat itu
bapakku pindah tugas ke kota Magelang). Setiap hari beliau berangkat jam 04.00
pagi dengan naik sepeda dari kampungku
menuju batas kota yang berjarak 5 km untuk mencari bus kearah Magelang dan
pulang jam 09.00 malam. Tidak pernah bolos! Biarpun badan sakit bapak tidak pernah mengeluh. Luar biasa…
(padahal saat itu kebanyakan orang sudah naik sepeda motor, tapi bapakku masih
mempertahankan sepeda ontel kesayangannya).
Demokratis
Walaupun anaknya perempuan semua, bapakku sebetulnya sangat
menginginkan salah satu anaknya bisa mengikuti jejaknya untuk menjadi seorang
angkatan (KOWAD, KOWAL atau WARA), tapi sayang
keinginan bapakku itu tidak pernah terwujud. Semua anak-anaknya tidak ada yang
berminat masuk angkatan, bahkan untuk masalah jodohpun anak-anaknya tidak ada
yang bersuamikan angkatan. Bapakku sangat menghormati keinginan anak-anaknya. Begitu
juga saat aku akan berangkat pendidikan di Singapore, karena keberangkatannya
sangat mendadak. Aku pun juga sangat mendadak memberitahukan kepada bapak dan
ibu jadwal keberangkatanku. Waktu itu ibu sempat emosi alias keberatan aku
berangkat ke Singapore apapun alasannya. Tetapi atas kebijaksanaan bapak aku
dibebaskan untuk memilih jalan demi masa depanku sendiri.
Bapak mulai sakit
Saat itu aku sudah bekerja di batam, dan Alhamdulillah aku
sudah bisa membeli rumah dikawasan perumahan di Batam Center. Rasa bersyukur tiada
terkira aku panjatkan kepada Allah swt karena sudah memberiku kemudahan untuk
memiliki sebuah rumah tinggal biarpun sederhana. Aku sengaja membelinya, karena
ingin sekali aku membawa ibu dan bapakku berkunjung di batam. Pada saat itu
bapak sudah mulai sakit-sakitan, aku ingin sekali ngajak bapak ke batam biar
beliau senang, dan puas melihat keberhasilan anak perempuannya.
Memang bapak sempat berkunjung ke batam bersama ibu, tapi sayang
waktu bapak dan ibu berkunjung Cuma sebentar. Sedikit kecewa sih aku karena
bapak dan ibu belum melihat rumahku, tapi tak mengapa karena saat itu bapak
harus control kedokter secara rutin. Karena bapak mengidap komplikasi, maklum bapak
dulu perokok berat.
Semenjak sakit-sakitan, beliau sering keluar masuk rumah sakit. Aku berusaha
menyempatkan pulang kampung saat itu dengan mengambil cutiku , karena mendapat
laporan dari adikku yang katanya bapak nggak mau dirawat di rumah sakit. Adikku
minta tolong agar aku mau merayu beliau agar penyakitnya segera ditangani dokter.
Singkat cerita bapakku mau dirawat dirumah sakit dengan syarat aku harus
menemani beliau. Aku dan ibu menemani bapak opname di rumah sakit. Alhamdulillah
hanya 4 hari bapak dirawat dirumah sakit, sepulangnya bapak dari rumah sakit esok
harinya aku berpamitan dengan bapakku untuk pulang ke batam, aku berjanji
dengan bapakku waktu itu bahwa di bulan Juli Insyaallah aku datang lagi… bapak
sangat senang waktu itu mendengarkan janjiku..
Perjumpaan terakhir di bulan Juli…
Aku memang sudah mempersiapkan untuk mudik lagi 3 bulan kemudian
yaitu di bulan Juli. Aku merencanakan untuk membawa bapakku jalan-jalan agar
mempercepat proses pemulihannya. Tibalah saatnya kepulanganku. Ada rasa sedikit
tidak tenang dalam hatiku untuk kepulanganku kali ini. Tapi mungkin karena aku
sangat kecapekan, karena semalaman aku nggak bisa tidur ditambah lagi aku ambil
pesawat pertama untuk terbang langsung ke Yogyakarta. Sesampai di Yogyakarta
aku menyewa travel untuk mengantarku sampai rumah. Aku juga berpesan ke sopir
travelnya untuk menjemput kami lagi esok paginya (hari sabtu) karena aku
berencana membawa bapakku jalan-jalan. Sesampainya di rumah aku kaget karena
sudah 3 hari bapakku masuk ICU. Sebetulnya ibu sudah kirim telegram waktu itu
tapi begitu telegram sampai di kantor akunya pulang kampung (jadi belum sempat
kebaca). Miris sekali melihat kondisi bapak waktu itu, karena tubuhnya sudah
dipenuhi selang dan kabel. Aku sempat berbicara sebentar dengan bapak, dan
bapak sangat tahu kedatanganku. Bapak sempat bilang , kalau beliau minta doa
dari aku. Bahkan aku sempat nyuapin bapak 15 menit sebelum beliau koma dan
akhirnya beliau meninggal dunia. Jenasah bapak langsung dibawa pulang dengan
ambulans. Untuk dimakamkan besok paginya.
Rencana rekreasi yang gagal
Esoknya rumahku dipenuhi pelayat , yang duduk mengitari
jenasah bapakku. Rencana siang harinya sesudah shalat dhuhur bapakku akan
dimakamkan. Tiba-tiba adikku memberitahukan kalau ada travel yang datang mau menjemput kami sekeluarga
untuk berekreasi. Aku baru ingat kalau aku sudah buat janji dengan travel itu
kemaren. Aku menjelaskan semuanya dari awal sambil menangis, bahwa aku baru
kena musibah. Orang yang akan aku ajak jalan-jalan sekarang sudah terbujur kaku
di ruang tamu dan siap untuk dimakamkan. Alhamdulillah travelnya tidak
mempermasalahkannya.
Hal itulah yang sampai sekarang membuatku merasa menyesal
tidak sepenuhnya aku merawat bapakku saat itu. Aku selalu minta ampun kepada
Allah swt kalau sehabis shalat sekalian membaca surat Al-Fatikah untuk aku
kirim kebapakku.
“Rabbighfir lii
waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa”
“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang
tuaku, dan sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah memelihara /
mendidikku sewaktu aku kecil.”
(teruntuk bapakku… mudah-mudahan dilapangkan kuburnya, diterangkan
jalannya, diampuni semua dosa-dosanya…) AMIN…



0 comments:
Post a Comment