Saturday, June 2, 2012

DOA UNTUK BAPAK..



Kalau mengingat almarhum bapakku ada rasa penyesalan di hatiku yang teramat dalam. Disaat beliau sakit aku tidak sempat merawatnya. Padahal bapakku sosok orang tua yang sangat penyayang, sederhana, dan demokratis dalam mendidik anak-anaknya yang kebetulan semuanya perempuan. Sebagai seorang militer bapakku sangat disiplin dalam mendidik semua anaknya. Sehingga kini aku pun masih memegang teguh ajaran bapakku dalam mendidik anakku.

Disiplin dan sederhana

Selain kedisiplinan bapakku juga mengajarkan kesederhanaan. Aku masih ingat waktu masih tinggal di asrama tentara di Yogyakarta, waktu itu bapakku masih dinas diketentaraan dan masih mempunyai hak untuk tinggal di salah satu rumah di asrama itu, tetapi bapaku justru sengaja memindahkan keluarganya ke kampung dan tidak mau tinggal di asrama lagi. Alasan bapakku waktu itu agar keluarganya semakin dewasa, bahwa semua kebutuhan itu didapat dengan perjuangan tidak instan (maklum kalau di asrama semua serba ada, karena difasilitasi oleh kesatuannya bapak).
Coba kalau tinggal di kampung untuk mendapatkan sesuatu ya usaha dulu, karena sudah nggak ada fasilitas lagi Yang dulu aku kalau sekolah diantar jemput pakai mobil tempat kesatuannya bapak, begitu tinggal di kampung aku harus naik sepeda kesekolah atau berjalan kaki. Bapak juga mengajarkan anaknya untuk tidak mengeluh.

Bapak yang hebat

Hebat! Angkat jempol aku buat bapakku. Setelah kami tinggal di kampung, otomatis bapakku harus menempuh perjalanan  sejauh 60 km menuju kota Magelang (saat itu bapakku pindah tugas ke kota Magelang). Setiap hari beliau berangkat jam 04.00 pagi dengan naik sepeda  dari kampungku menuju batas kota yang berjarak 5 km untuk mencari bus kearah Magelang dan pulang jam 09.00 malam. Tidak pernah bolos! Biarpun badan sakit bapak tidak pernah mengeluh. Luar biasa… (padahal saat itu kebanyakan orang sudah naik sepeda motor, tapi bapakku masih mempertahankan sepeda ontel kesayangannya).

Demokratis

Walaupun anaknya perempuan semua, bapakku sebetulnya sangat menginginkan salah satu anaknya bisa mengikuti jejaknya untuk menjadi seorang angkatan (KOWAD, KOWAL  atau WARA), tapi sayang keinginan bapakku itu tidak pernah terwujud. Semua anak-anaknya tidak ada yang berminat masuk angkatan, bahkan untuk masalah jodohpun anak-anaknya tidak ada yang bersuamikan angkatan. Bapakku sangat menghormati keinginan anak-anaknya. Begitu juga saat aku akan berangkat pendidikan di Singapore, karena keberangkatannya sangat mendadak. Aku pun juga sangat mendadak memberitahukan kepada bapak dan ibu jadwal keberangkatanku. Waktu itu ibu sempat emosi alias keberatan aku berangkat ke Singapore apapun alasannya. Tetapi atas kebijaksanaan bapak aku dibebaskan untuk memilih jalan demi masa depanku sendiri.

Bapak mulai sakit

Saat itu aku sudah bekerja di batam, dan Alhamdulillah aku sudah bisa membeli rumah dikawasan perumahan di Batam Center. Rasa bersyukur tiada terkira aku panjatkan kepada Allah swt karena sudah memberiku kemudahan untuk memiliki sebuah rumah tinggal biarpun sederhana. Aku sengaja membelinya, karena ingin sekali aku membawa ibu dan bapakku berkunjung di batam. Pada saat itu bapak sudah mulai sakit-sakitan, aku ingin sekali ngajak bapak ke batam biar beliau senang, dan puas melihat keberhasilan anak perempuannya.
Memang bapak sempat berkunjung ke batam bersama ibu, tapi sayang waktu bapak dan ibu berkunjung Cuma sebentar. Sedikit kecewa sih aku karena bapak dan ibu belum melihat rumahku, tapi tak mengapa karena saat itu bapak harus control kedokter secara rutin. Karena bapak mengidap komplikasi, maklum bapak dulu perokok berat.
Semenjak sakit-sakitan, beliau  sering keluar masuk rumah sakit. Aku berusaha menyempatkan pulang kampung saat itu dengan mengambil cutiku , karena mendapat laporan dari adikku yang katanya bapak nggak mau dirawat di rumah sakit. Adikku minta tolong agar aku mau merayu beliau agar penyakitnya segera ditangani dokter. Singkat cerita bapakku mau dirawat dirumah sakit dengan syarat aku harus menemani beliau. Aku dan ibu menemani bapak opname di rumah sakit. Alhamdulillah hanya 4 hari bapak dirawat dirumah sakit, sepulangnya bapak dari rumah sakit esok harinya aku berpamitan dengan bapakku untuk pulang ke batam, aku berjanji dengan bapakku waktu itu bahwa di bulan Juli Insyaallah aku datang lagi… bapak sangat senang waktu itu mendengarkan janjiku..

Perjumpaan terakhir di bulan Juli…

Aku memang sudah mempersiapkan untuk mudik lagi 3 bulan kemudian yaitu di bulan Juli. Aku merencanakan untuk membawa bapakku jalan-jalan agar mempercepat proses pemulihannya. Tibalah saatnya kepulanganku. Ada rasa sedikit tidak tenang dalam hatiku untuk kepulanganku kali ini. Tapi mungkin karena aku sangat kecapekan, karena semalaman aku nggak bisa tidur ditambah lagi aku ambil pesawat pertama untuk terbang langsung ke Yogyakarta. Sesampai di Yogyakarta aku menyewa travel untuk mengantarku sampai rumah. Aku juga berpesan ke sopir travelnya untuk menjemput kami lagi esok paginya (hari sabtu) karena aku berencana membawa bapakku jalan-jalan. Sesampainya di rumah aku kaget karena sudah 3 hari bapakku masuk ICU. Sebetulnya ibu sudah kirim telegram waktu itu tapi begitu telegram sampai di kantor akunya pulang kampung (jadi belum sempat kebaca). Miris sekali melihat kondisi bapak waktu itu, karena tubuhnya sudah dipenuhi selang dan kabel. Aku sempat berbicara sebentar dengan bapak, dan bapak sangat tahu kedatanganku. Bapak sempat bilang , kalau beliau minta doa dari aku. Bahkan aku sempat nyuapin bapak 15 menit sebelum beliau koma dan akhirnya beliau meninggal dunia. Jenasah bapak langsung dibawa pulang dengan ambulans. Untuk dimakamkan besok paginya.

Rencana rekreasi yang gagal

Esoknya rumahku dipenuhi pelayat , yang duduk mengitari jenasah bapakku. Rencana siang harinya sesudah shalat dhuhur bapakku akan dimakamkan. Tiba-tiba adikku memberitahukan kalau ada travel  yang datang mau menjemput kami sekeluarga untuk berekreasi. Aku baru ingat kalau aku sudah buat janji dengan travel itu kemaren. Aku menjelaskan semuanya dari awal sambil menangis, bahwa aku baru kena musibah. Orang yang akan aku ajak jalan-jalan sekarang sudah terbujur kaku di ruang tamu dan siap untuk dimakamkan. Alhamdulillah travelnya tidak mempermasalahkannya.
Hal itulah yang sampai sekarang membuatku merasa menyesal tidak sepenuhnya aku merawat bapakku saat itu. Aku selalu minta ampun kepada Allah swt kalau sehabis shalat sekalian membaca surat Al-Fatikah untuk aku kirim kebapakku.

Rabbighfir lii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa”
 “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah memelihara / mendidikku sewaktu aku kecil.”

(teruntuk bapakku… mudah-mudahan dilapangkan kuburnya, diterangkan jalannya, diampuni semua dosa-dosanya…) AMIN…





0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Theme images by andynwt. Powered by Blogger.
 

© TULISAN BUNDA, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography