Monday, May 28, 2012

PERASAAN NENEK DAN DERITA PEMULUNG



Hari minggu cuaca hujan rintik-rintik dari Subuh, sangat mendukung untuk bermalas-malasan. Bahkan anakku cenderung ingin bermain komputer didalam kamar dan malas untuk keluar rumah. Kalau nggak karena sudah buat janji dengan Mama Emmy, rasanya malas banget keluar rumah.
Jam 7.30 pagi aku keluar rumah dan berangkat menuju Masjid Raya untuk menyiapkan bantuan social dalam rangka hari LANSIA bersama anggota majelis taklim Miftahul Jannah yang dipimpin Mama Emmy Warsih. Yang akan memberikan sumbangan Pakaian bekas, sumbangan Uang ke perkampungan pemulung di daerah Punggur, batam center (salah satu wilayah di Pulau Batam). Letak perkampungan itu tepat disekitar tempat pembuangan akhir sampah (TPA) di Batam.  


Sesampai di Masjid Raya Batam, rasa malas yang tadi aku bawa dari rumah mendadak hilang begitu melihat semangat para nenek yang akan ikut dalam rombongan bakti social.
“Jam berapa Nek, dari rumah?” tanyaku kepada salah satu nenek yang ikut dalam rombongan. Aku lihat dia yang paling banyak membawa bekal makanan.

“Nenek tadi berangkat dari rumah Jam 7.00, nenek naik angkot dari Batu Aji” jawabnya. Batu Aji  adalah daerah yang jaraknya lumayan jauh dari Masjid Raya.
“Nenek bawa makanan banyak sekali? Masaknya jam berapa,Nek?” tanyaku
“Iya Nenek bawa bekal karena pulang dari kunjungan nanti nenek langsung ikut Dzikir sampai sore. Nenek tadi masak jam 4.00 pagi” jawabnya  lagi. Mendengar jawaban si Nenek aku jadi malu hati. Jam 4.00 pagi aku masih tidur, mana suasana hujan lagi. Bahkan sehabis sholat Subuh pun bukannya bangun, tapi melanjutkan tidur lagi. Maluuuu banget…!

Tepat Jam 8.30 Rombongan berangkat menggunakan 2 mobil sewaan. Mobil yang satu buat buat mengangkut peserta sedangkan mobil yang satunya lagi buat ngangkut puluhan boks bantuan. Perjalanan ditempuh dalam waktu 30 menit. 

Hujan masih rintik-rintik waktu rombongan sudah sampai tujuan. Rombongan memasuki pintu gerbang yang tidak di jaga oleh Satpam. Bangunan penjagaan yang sudah usang tak terawat. Jalanan aspal di pintu masuk itu pun sudah rusak jadi sudah bisa dibayangkan betapa jorok pemukiman didalamnya. Mobil terus masuk menyusuri jalanan aspal usang, jarak antara pos satpam sampai pemukiman sekitar 500m.
Sesampai di areal pemukiman, sejauh mata memandang adalah hamparan sampah-sampah rumah tangga. Bau tidak sedap mulai tercium mengalahkan parfum yang aku pakai. Rombongan berjalan kaki memasuki perkampungan penduduk. Luar biasa semangat para nenek ini, padahal jalanan sangat licin tapi mereka masih lincah. Malah kadang aku yang khawatir kalau-kalau ada nenek yang jatuh. Tapi Alhamdulilah nggak ada.

Letak Mushola Sabilul Muttaqin berada di tengah-tengah perkampungan dan kondisinya sangat sederhana. Bahkan mungkin struktur bangunannya lebih lumaya dibanding rumah penduduk yang kesemuanya tidak layak huni. Namanya juga Musholla di tengah perkampungan yang dikelilingi hamparan sampah otomatis tidak sebersih musholla yang biasa kita lihat. Di perkampungan itu dimana-mana banyak sekali lalat beterbangan, sangat kurang nyaman buat ibadah.

Semua penduduk sudah menunggu rombongan para nenek di dalam Musholla. Mereka semua dengan ramah dan penuh kebersahajaan menyambut rombongan, aku sangat terharu melihatnya. Mereka sangat nrimo dengan apa yang mereka dapat.

Aku salami semua penduduk yang ada di dalam musholla itu, ada orang tua yang matanya sakit berair (kurang gizi), kudisan, dan anak-anak yang keterbelakangan mental. Komplit sudah pemandangan di dalam musholla itu.

Mama Emmy mulai membagikan sumbangan kepada penduduk. Aku melihat mereka senang sekali, gimana nggak senang penghasilan mereka sehari Rp 10.000 mana bisa buat menyambung hidup selama seharian. Apalagi kalau dia punya anak kecil yang harus beli susu. Uang Rp 10.000 itu juga bukannya mudah mereka dapatkan, dia harus berlomba dengan sesame pemulung untuk berebut sampah yang diangkut oleh truk sampah yang mengankut sampah dari perumahan-perumahan.
Merek hanya mencari limbah plastic yang mereka kumpulkan dan setelah banyak nanti baru mereka jual 1 kg nya dihargai Rp 1000. 

Para pemulung ini bukannya pemalas, tapi hanya itu yang mereka bisa. Dan kita seharusnya berterimakasih dengan mereka, karena tanpa mereka yang menyortir sampah-sampah itu akan jadi apa bumi kita. Semua orang pasti tidak mau bekerja ataupun hidup ditempat kumuh seperti itu. Dan mereka tidak ada pilihan lain. Karena memang dari situ mereka bisa makan.

Mudah-mudahan akan semakin banyak orang yang peduli kepada sesamanya yang tidak beruntung, Jangan kalah dengan nenek-nenek yang hebat ini. Semoga semua nenek diberi umur panjang, limpahan berkah, kesehatan dari Allah swt. Amin.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Theme images by andynwt. Powered by Blogger.
 

© TULISAN BUNDA, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography