Hari minggu cuaca hujan rintik-rintik dari Subuh, sangat
mendukung untuk bermalas-malasan. Bahkan anakku cenderung ingin bermain
komputer didalam kamar dan malas untuk keluar rumah. Kalau nggak karena sudah
buat janji dengan Mama Emmy, rasanya malas banget keluar rumah.
Jam 7.30 pagi aku keluar rumah dan berangkat menuju Masjid
Raya untuk menyiapkan bantuan social dalam rangka hari LANSIA bersama anggota
majelis taklim Miftahul Jannah yang dipimpin Mama Emmy Warsih. Yang akan memberikan
sumbangan Pakaian bekas, sumbangan Uang ke perkampungan pemulung di daerah
Punggur, batam center (salah satu wilayah di Pulau Batam). Letak perkampungan
itu tepat disekitar tempat pembuangan akhir sampah (TPA) di Batam.
Sesampai di Masjid Raya Batam, rasa malas yang tadi aku bawa
dari rumah mendadak hilang begitu melihat semangat para nenek yang akan ikut
dalam rombongan bakti social.
“Jam berapa Nek, dari rumah?” tanyaku kepada salah satu
nenek yang ikut dalam rombongan. Aku lihat dia yang paling banyak membawa bekal
makanan.
“Nenek tadi berangkat dari rumah Jam 7.00, nenek naik angkot
dari Batu Aji” jawabnya. Batu Aji adalah
daerah yang jaraknya lumayan jauh dari Masjid Raya.
“Nenek bawa makanan banyak sekali? Masaknya jam berapa,Nek?”
tanyaku
“Iya Nenek bawa bekal karena pulang dari kunjungan nanti
nenek langsung ikut Dzikir sampai sore. Nenek tadi masak jam 4.00 pagi”
jawabnya lagi. Mendengar jawaban si
Nenek aku jadi malu hati. Jam 4.00 pagi aku masih tidur, mana suasana hujan
lagi. Bahkan sehabis sholat Subuh pun bukannya bangun, tapi melanjutkan tidur
lagi. Maluuuu banget…!
Tepat Jam 8.30 Rombongan berangkat menggunakan 2 mobil sewaan.
Mobil yang satu buat buat mengangkut peserta sedangkan mobil yang satunya lagi
buat ngangkut puluhan boks bantuan. Perjalanan ditempuh dalam waktu 30 menit.
Hujan masih rintik-rintik waktu rombongan sudah sampai
tujuan. Rombongan memasuki pintu gerbang yang tidak di jaga oleh Satpam.
Bangunan penjagaan yang sudah usang tak terawat. Jalanan aspal di pintu masuk
itu pun sudah rusak jadi sudah bisa dibayangkan betapa jorok pemukiman
didalamnya. Mobil terus masuk menyusuri jalanan aspal usang, jarak antara pos
satpam sampai pemukiman sekitar 500m.
Sesampai di areal pemukiman, sejauh mata memandang adalah
hamparan sampah-sampah rumah tangga. Bau tidak sedap mulai tercium mengalahkan
parfum yang aku pakai. Rombongan berjalan kaki memasuki perkampungan penduduk.
Luar biasa semangat para nenek ini, padahal jalanan sangat licin tapi mereka
masih lincah. Malah kadang aku yang khawatir kalau-kalau ada nenek yang jatuh.
Tapi Alhamdulilah nggak ada.
Letak Mushola Sabilul Muttaqin berada di tengah-tengah
perkampungan dan kondisinya sangat sederhana. Bahkan mungkin struktur
bangunannya lebih lumaya dibanding rumah penduduk yang kesemuanya tidak layak
huni. Namanya juga Musholla di tengah perkampungan yang dikelilingi hamparan
sampah otomatis tidak sebersih musholla yang biasa kita lihat. Di perkampungan
itu dimana-mana banyak sekali lalat beterbangan, sangat kurang nyaman buat
ibadah.
Semua penduduk sudah menunggu rombongan para nenek di dalam
Musholla. Mereka semua dengan ramah dan penuh kebersahajaan menyambut
rombongan, aku sangat terharu melihatnya. Mereka sangat nrimo dengan apa yang
mereka dapat.
Aku salami semua penduduk yang ada di dalam musholla itu, ada
orang tua yang matanya sakit berair (kurang gizi), kudisan, dan anak-anak yang
keterbelakangan mental. Komplit sudah pemandangan di dalam musholla itu.
Mama Emmy mulai membagikan sumbangan kepada penduduk. Aku
melihat mereka senang sekali, gimana nggak senang penghasilan mereka sehari Rp
10.000 mana bisa buat menyambung hidup selama seharian. Apalagi kalau dia punya
anak kecil yang harus beli susu. Uang Rp 10.000 itu juga bukannya mudah mereka
dapatkan, dia harus berlomba dengan sesame pemulung untuk berebut sampah yang
diangkut oleh truk sampah yang mengankut sampah dari perumahan-perumahan.
Merek hanya mencari limbah plastic yang mereka kumpulkan dan
setelah banyak nanti baru mereka jual 1 kg nya dihargai Rp 1000.
Para pemulung ini bukannya pemalas, tapi hanya itu yang
mereka bisa. Dan kita seharusnya berterimakasih dengan mereka, karena tanpa
mereka yang menyortir sampah-sampah itu akan jadi apa bumi kita. Semua orang
pasti tidak mau bekerja ataupun hidup ditempat kumuh seperti itu. Dan mereka
tidak ada pilihan lain. Karena memang dari situ mereka bisa makan.
Mudah-mudahan akan semakin banyak orang yang peduli kepada
sesamanya yang tidak beruntung, Jangan kalah dengan nenek-nenek yang hebat ini.
Semoga semua nenek diberi umur panjang, limpahan berkah, kesehatan dari Allah
swt. Amin.



0 comments:
Post a Comment