(Jika tangan kananmu memberi maka tangan kirimu jangan sampai tahu....wah kalau aku tidak begitu "Jika tangan kananmu memberi maka tangan kirimu perlu tahu agar dia juga ikut memberi")
Sebetulnya kisah ini terjadi sudah 3 tahun yang lalu
tepatnya kapan aku sudah lupa, tapi sangat besar kesannya dalam kehidupanku.
Karena kisah ini juga aku jadi sadar, dan “percaya” kata Ustad Yusuf Mansur,
yang biasa aku lihat di salah satu stasiun TV swasta.
Waktu itu tanggal tua alias belum gajian sehingga bagiku
bulan tua seperti itu sedang kuat-kuatnya mengetatkan ikat pinggang. Dan biasanya
dibulan tua seperti itu banyak sekali ujian yang berhubungan dengan uang. Tinggal
kita niat atau tidak membantu mereka. Kalau kita bantu otomatis kita makan
alakadarnya, tapi pahala kita banyak. Kalau kita tidak bantu makan kita mewah
tapi hidup kita tidak berkah.
Seperti juga nasibku waktu itu, dengan uang belanja yang
kian menipis di dompet (maklum suami bukan pegawai perusahaan yang mempunyai waktu
Over Time yang banyak). Aku pun lagi
giat-giatnya ngirit belanja dengan alasan biar cukup sampai akhir bulan yang
tinggal seminggu lagi. Aku juga sempat didatangi 3 orang dalam satu minggu itu
yang berusaha meminjam uang untuk macam-macam kebutuhan mereka. Seingatku waktu
itu uang di dompet tinggal Rp 400.000 (Rp 100.000 uang belanja dan Rp 300.000
uang hasil penjualan OL di internet yang aku dapat hari itu. Dan rencana mau
aku tabungkan ke Bank). Rasa takut tidak
dikembalikan tepat waktu atau takut belanja harianku jadi terganggu
berseliweran di otakku.. itu semua mungkin karena aku belum tahu alasan mereka
mau meminjam uangnya. Setelah tahu alasannya Alhamdulillah aku ikhlas..
Orang pertama yang meminjam
Dimulai dari seorang wanita yang suaminya kecelakaan kena
gerenda, telinganya nyaris putus. Sementara dia bukan anggota jamsostek (karena
merupakan karyawan baru di perusahaannya). Istrinya datang kerumah dengan
menangis karena suaminya tidak juga mendapat penanganan oleh dokter gara-gara
tidak ada uang untuk membayar biaya perawatannya.Sementara biaya perawatannya diperkirakan
sekitar Rp 300.000. seandainya suaminya tidak mendapatkan perawatan dengan
cepat maka takutnya suaminya tidak tertolong karena sudah banyak mengeluarkan
darah.Akhirnya tanpa memperpanjang pertanyaan aku pinjami orang itu uang
sebesar nominal yang dia butuhkan. Istrinya berjanji akan mengembalikan dalam
waktu 1 minggu (tanggal 31) pada saat suaminya terima gaji.Jujur saja aku tidak
kenal dekat, bahkan rumahnya pun aku juga nggak begitu tahu, Cuma sebelum
pindah dulu dia pernah sebentar jadi tetangga diperumahanku.Jujur saja waktu
itu aku tidak ada ketakutan kalau istrinya menipu, karena mana adalah istri
yang baik tega mengorbankan suaminya demi uang Rp 300.000.
Orang kedua yang meminjam
Sisa uang yang didompet tinggal Rp 100.000, aku pakai buat
belanja untuk 3 hari kedepan sisanya tinggal Rp 40.000. 3 hari kemudian ada tetanggaku (kurang aku kenal karena dia
tinggalnya mengontrak didekat rumahku) datang ketempatku mau pinjam uang RP 50.000 alasannya dia tidak ada
transport untuk berangkat kerja dan tidak ada persediaan untuk makan anaknya.
Aku nggak tega akhirnya aku pinjami Rp. 30.000, dia janji akan mengembalikan
awal bulan. Otomatis berkurang lagi stok uang belanjaku jadi Rp 10.000.
Orang ketiga
Selang 1 hari kemudian di siang hari yang terik datanglah
seorang kakek usia sekitar 75 tahun, minta uang Rp 5000 buat transport pulang
ke tempat nginapnya di sebuah masjid di salah satu perumahan yang jaraknya
lumayan jauh dari tempatku tinggal. Karena aku kasihan aku tidak langsung
member uang yang dia minta dengan pertimbangan uangku tinggal Rp 10.000.
Akhirnya aku tawarin si kakek itu untuk makan dirumahku. Alhamdulillah si kakek
itu tidak menolak, aku beri dia nasi plus lauk yang kebetulan aku masak pada
hari itu. Aku sempat bertanya sama si kakek itu, dia bilang kalau habis kena
tipu oleh Tekong (calo tenaga kerja ke Malaysia), kakek itu berasal dari Jawa
Timur. (Aku jadi ingat sama bapak mertuaku yang berasal dari Jawa Timur
juga). Akhirnya karena tidak tega (nggak
tega aku membiarkan si kakek jalan kaki siang bolong kayak gitu) aku beri si
kakek uang Rp 5000 rupiah. Sambil aku pesan sama kakek kalau laper aku suruh
datang kerumahku.
Habis sudah uang belanjaku saat itu tinggal Rp 5000. Mana stok
yang 3 hari kemarin sudah habis lagi. Akhirnya uang Rp 5000 itu aku belikan tempe
dan ikan teri. Buat lauk anak dan suamiku… sedih sih tapi belum seberapa
kesedihanku karena tidak punya uang dibanding penderitaan orang-orang itu. Aku
masih bisa bersyukur…
Waktu sudah memasuki bulan baru, satupun orang itu belum ada
yang mengembalikan uangnya. Ya, aku berusaha berfikir positif aja. Kalau memang
rejekiku Allah pasti akan mengembalikannya tapi kalau bukan rejekiku ya aku
Ikhlas, biar Allah yang menggantinya suatu saat nanti.
Aku udah hambir lupa dengan kejadian diatas tadi, karena
Allah sudah menggantikan dengan uang gaji yang aku terima dari suamiku. Orang-orang
yang meminjam itu satupun belum ada yang mengembalikan uangnya. Tiba-tiba kawanku
datang dan dia bercerita kalau habis membeli ruko buat usaha barunya. Dia pusing
mau menjahitkan horden yang murah meriah untuk jendela ruko dan jendela
rumahnya. Dia ngotot minta tolong sama aku buat menjahit hordennya. Padahal aku
tidak berpengalaman menjahit horden. Karena alasan setia kawan aku terima juga
tawarannya itu. Dan aku kerjakan dalam waktu 3 hari!
Subhanallah kayak mimpi rasanya, kawanku memberiku uang cash
1.5 juta karena aku sudah membantunya menjahit kan horden. Dan lebih kagetnya
lagi dalam waktu yang hampir bersamaan orang-orang yang meminjam uang ku itu
pada datang mengembalikan uangnya. Yang sebetulnya aku sudah lupa karena sudah
disibukkan oleh pekerjaan dari kawanku itu.
Allah memang Maha Tahu kapan menyenangkan hambaNya, Allah
membuat aku di posisi yang benar-benar kepepet “titik nadir”. Dan habis itu aku
dibuat lupa dengan semuanya, dan aku dibuat bahagia pada akhirnya…Alhamdulillah.



0 comments:
Post a Comment