Tuesday, May 29, 2012

KISAHKU DENGAN SEDEKAH




 (Jika tangan kananmu memberi maka tangan kirimu jangan sampai tahu....wah kalau aku tidak begitu "Jika tangan kananmu memberi maka tangan kirimu perlu tahu agar dia juga ikut memberi")
Sebetulnya kisah ini terjadi sudah 3 tahun yang lalu tepatnya kapan aku sudah lupa, tapi sangat besar kesannya dalam kehidupanku. Karena kisah ini juga aku jadi sadar, dan “percaya” kata Ustad Yusuf Mansur, yang biasa aku lihat di salah satu stasiun TV swasta.

Waktu itu tanggal tua alias belum gajian sehingga bagiku bulan tua seperti itu sedang kuat-kuatnya mengetatkan ikat pinggang. Dan biasanya dibulan tua seperti itu banyak sekali ujian yang berhubungan dengan uang. Tinggal kita niat atau tidak membantu mereka. Kalau kita bantu otomatis kita makan alakadarnya, tapi pahala kita banyak. Kalau kita tidak bantu makan kita mewah tapi hidup kita tidak berkah.
Seperti juga nasibku waktu itu, dengan uang belanja yang kian menipis di dompet (maklum suami bukan pegawai perusahaan yang mempunyai waktu Over Time yang  banyak). Aku pun lagi giat-giatnya ngirit belanja dengan alasan biar cukup sampai akhir bulan yang tinggal seminggu lagi. Aku juga sempat didatangi 3 orang dalam satu minggu itu yang berusaha meminjam uang untuk macam-macam kebutuhan mereka. Seingatku waktu itu uang di dompet tinggal Rp 400.000 (Rp 100.000 uang belanja dan Rp 300.000 uang hasil penjualan OL di internet yang aku dapat hari itu. Dan rencana mau aku tabungkan ke Bank). Rasa takut  tidak dikembalikan tepat waktu atau takut belanja harianku jadi terganggu berseliweran di otakku.. itu semua mungkin karena aku belum tahu alasan mereka mau meminjam uangnya. Setelah tahu alasannya Alhamdulillah aku ikhlas..


Orang pertama yang meminjam 

Dimulai dari seorang wanita yang suaminya kecelakaan kena gerenda, telinganya nyaris putus. Sementara dia bukan anggota jamsostek (karena merupakan karyawan baru di perusahaannya). Istrinya datang kerumah dengan menangis karena suaminya tidak juga mendapat penanganan oleh dokter gara-gara tidak ada uang untuk membayar biaya perawatannya.Sementara biaya perawatannya diperkirakan sekitar Rp 300.000. seandainya suaminya tidak mendapatkan perawatan dengan cepat maka takutnya suaminya tidak tertolong karena sudah banyak mengeluarkan darah.Akhirnya tanpa memperpanjang pertanyaan aku pinjami orang itu uang sebesar nominal yang dia butuhkan. Istrinya berjanji akan mengembalikan dalam waktu 1 minggu (tanggal 31) pada saat suaminya terima gaji.Jujur saja aku tidak kenal dekat, bahkan rumahnya pun aku juga nggak begitu tahu, Cuma sebelum pindah dulu dia pernah sebentar jadi tetangga diperumahanku.Jujur saja waktu itu aku tidak ada ketakutan kalau istrinya menipu, karena mana adalah istri yang baik tega mengorbankan suaminya demi uang Rp 300.000.

Orang kedua yang meminjam

Sisa uang yang didompet tinggal Rp 100.000, aku pakai buat belanja untuk 3 hari kedepan sisanya tinggal Rp 40.000. 3 hari kemudian  ada tetanggaku (kurang aku kenal karena dia tinggalnya mengontrak didekat rumahku) datang ketempatku mau pinjam uang RP 50.000 alasannya dia tidak ada transport untuk berangkat kerja dan tidak ada persediaan untuk makan anaknya. Aku nggak tega akhirnya aku pinjami Rp. 30.000, dia janji akan mengembalikan awal bulan. Otomatis berkurang lagi stok uang belanjaku jadi Rp 10.000.

Orang ketiga

Selang 1 hari kemudian di siang hari yang terik datanglah seorang kakek usia sekitar 75 tahun, minta uang Rp 5000 buat transport pulang ke tempat nginapnya di sebuah masjid di salah satu perumahan yang jaraknya lumayan jauh dari tempatku tinggal. Karena aku kasihan aku tidak langsung member uang yang dia minta dengan pertimbangan uangku tinggal Rp 10.000. Akhirnya aku tawarin si kakek itu untuk makan dirumahku. Alhamdulillah si kakek itu tidak menolak, aku beri dia nasi plus lauk yang kebetulan aku masak pada hari itu. Aku sempat bertanya sama si kakek itu, dia bilang kalau habis kena tipu oleh Tekong (calo tenaga kerja ke Malaysia), kakek itu berasal dari Jawa Timur. (Aku jadi ingat sama bapak mertuaku yang berasal dari Jawa Timur juga).  Akhirnya karena tidak tega (nggak tega aku membiarkan si kakek jalan kaki siang bolong kayak gitu) aku beri si kakek uang Rp 5000 rupiah. Sambil aku pesan sama kakek kalau laper aku suruh datang kerumahku.

Habis sudah uang belanjaku saat itu tinggal Rp 5000. Mana stok yang 3 hari kemarin sudah habis lagi. Akhirnya uang Rp 5000 itu aku belikan tempe dan ikan teri. Buat lauk anak dan suamiku… sedih sih tapi belum seberapa kesedihanku karena tidak punya uang dibanding penderitaan orang-orang itu. Aku masih bisa bersyukur…

Waktu sudah memasuki bulan baru, satupun orang itu belum ada yang mengembalikan uangnya. Ya, aku berusaha berfikir positif aja. Kalau memang rejekiku Allah pasti akan mengembalikannya tapi kalau bukan rejekiku ya aku Ikhlas, biar Allah yang menggantinya suatu saat nanti.

Aku udah hambir lupa dengan kejadian diatas tadi, karena Allah sudah menggantikan dengan uang gaji yang aku terima dari suamiku. Orang-orang yang meminjam itu satupun belum ada yang mengembalikan uangnya. Tiba-tiba kawanku datang dan dia bercerita kalau habis membeli ruko buat usaha barunya. Dia pusing mau menjahitkan horden yang murah meriah untuk jendela ruko dan jendela rumahnya. Dia ngotot minta tolong sama aku buat menjahit hordennya. Padahal aku tidak berpengalaman menjahit horden. Karena alasan setia kawan aku terima juga tawarannya itu. Dan aku kerjakan dalam waktu 3 hari! 

Subhanallah kayak mimpi rasanya, kawanku memberiku uang cash 1.5 juta karena aku sudah membantunya menjahit kan horden. Dan lebih kagetnya lagi dalam waktu yang hampir bersamaan orang-orang yang meminjam uang ku itu pada datang mengembalikan uangnya. Yang sebetulnya aku sudah lupa karena sudah disibukkan oleh pekerjaan dari kawanku itu.

Allah memang Maha Tahu kapan menyenangkan hambaNya, Allah membuat aku di posisi yang benar-benar kepepet “titik nadir”. Dan habis itu aku dibuat lupa dengan semuanya, dan aku dibuat bahagia pada akhirnya…Alhamdulillah.






0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Theme images by andynwt. Powered by Blogger.
 

© TULISAN BUNDA, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography